Sejarah Asuransi di Indonesia

1686 Views

Sudah Tahu Perjalanan Sejarah Asuransi di Indonesia?Β Sejarah asuransi di Indonesia sebenarnya sudah cukup lama. Mungkin kebanyakan orang mengira bahwa asuransi baru dikenal baru-baru ini. Sekitar tahun 80-an atau 90-an, mungkin? Ya, memang tidak dipungkiri kepopuleran asuransi di masyarakat Indonesia bisa dibilang baru dimulai.

Kamu tahu sendiri asuransi BPJS yang sekarang sudah mulai populer bahkan di kalangan menengah ke bawah. Dulu sih memang ada Jamsostek ataupun Askes namun tidaklah sepopuler BPJS. Fungsi BPJS sendiri memang gabungan kedua asuransi pemerintah tersebut. Hal ini menjadi pertanda bahwa pemerintah semakin tanggap mengenai pentingnya asuransi.

Sejarah Asuransi Indonesia

klik untuk memperbesar gambar

Nah, balik ke topik mengenai sejarah asuransi di Indonesia. Tahukah kamu kalau perusahaan asuransi sudah ada sejak penjajahan Belanda. Bahkan, perkembangan asuransi di Indonesia tidak lepas dari pemerintah kolonial Belanda.

Sejarah Asuransi di Indonesia

  1. Masa Penjajahan Belanda

Awalnya asuransi pertama yang didirikan di Indonesia bertujuan untuk menanggulangi kemungkinan kerugian pada bisnis perdagangan dan perkebunan. Asuransi kerugian tersebut bernama Bataviasche Zee End Brand Asrantie Maatschappij yang didirikan pada tahun 1853. Kemudian, lahir pula asuransi yang diadopsi dari perusahaan asuransi Belanda yakni Nederlandsh Indisch Leven Verzekering En Liefrente Maatschappij (NILMIY). Peristiwa-peristiwa inilah yang mengawali perkembangan asuransi di Indonesia.

Jadi asuransi pada masa penjajahan Belanda secara umum digawangi oleh dua kategori. Yang pertama perusahaan asuransi yang didirikan oleh orang Belanda sendiri, kemudian yang kedua merupakan kantor cabang perusahan asuransi asing seperti Inggris, Belanda dan negara-negara lain.

  1. Setelah kemerdekaan Indonesia

Pada Perang Dunia II hampir secara otomatis membuat per-asuransi-an di negeri Indonesia terhenti. Namun, setelah kemerdekaan, perusahaan-perusahaan asuransi mulai menaikkan bendera kembali. Ada banyak perubahan signifikan menandai perkembangan asuransi yang cukup pesat di Indonesia, di antaranya:

  • Nasionalisasi berbagai perusahaan asuransi Belanda dan negara lainnya. Beberapa contohnya adalah Asuransi De Nederlanden Van yang berdiri pada tahun 1845 berubah nama menjadi PT. Asuransi Jiwasraya.
  • Pendirian asuransi baru oleh Indonesia sendiri. Di antaranya adlaah Asuransi Jasa Rahardja yang memberi proteksi kepada masyarakat akan kecelakaan lalu lintas. Ada pula Jamsostek yang memberikan jaminan tenaga kerja di perusahaan swasta. Kemudian, terdapat pula Perum Asabri yang diperuntukkan bagi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
  • Penggabungan perusahaan asuransi oleh pemerintahan Indonesia. Sebagai contoh: PT. Asuransi Bendasraya yang berfokus dalam bidang asuransi rupiah digabung dengan PT UIU (Umum International Underwriters) yang berfokus pada valuta asing. Kedua perusahaan ini kini menjadi Asuransi Jasindo.

Masuk ke era modern, khususnya mulai tahun 80-an, perusahaan asuransi kesehatan semakin banyak. Baik dari dalam negeri maupun perusahaan asing yang buka cabang di Indonesia.

Sebut saja Asuransi Sinar Mas, ada pula asuransi asing seperti Allianz, AIA Financial, Prudential dan sebagainya. Produk-produk yang ditawarkan pun semakin beragam. Tidak lagi seperti zaman penjajahan Belanda yang sebagian besar hanya berfokus pada Asuransi Kerugian dan Asuransi Pengangkutan, sekarang terdapat asuransi yang memang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern. Produk tersebut mencakup asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi kendaraan dan sebagainya.

Belum lagi, sebagaimana sudah disinggung di awal artikel. Pemerintah juga telah mulai tanggap akan kebutuhan masyarakat terhadap asuransi. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau asuransi BPJS pun lahir sebagai solusi asuransi dari pemerintah.

Masyarakat Indonesia pun punya lebih banyak pilihan asuransi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhannya. Walau, memang, hingga saat ini pengguna asuransi di Indonesia belum mencapai setengah dari jumlah penduduk kita.

note : ini adalah artikel review. apapun dampak yang ditimbulkan oleh artikel iniΒ bukan menjadi tanggung jawabΒ wongcungkup

BURSA MEMBER

Kategori:info, reviewTag

Written by: Yanto Cungkup

Title: Sejarah Asuransi di Indonesia
saya hanya manusia biasa yang berusaha berguna bagi sesama dan terbuka untuk menjalin persahabatan dengan siapa saja.
449 Artikel
245 Comments
  1. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
    • komentar
  2. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
  3. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
  4. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
  5. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
  6. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
  7. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
  8. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
  9. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
  10. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
  11. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
  12. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
  13. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
  14. komentar
  15. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
  16. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
  17. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
  18. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
  19. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
  20. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
  21. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
  22. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
  23. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
          • komentar
          • komentar
  24. komentar
    • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
  25. komentar
    • komentar
      • komentar
      • komentar
        • komentar
          • komentar
  26. komentar
    • komentar
  27. komentar
  28. komentar
  29. komentar
  30. komentar
    • komentar
      • komentar
  31. komentar
  32. komentar
  33. komentar
  34. komentar
  35. komentar
  36. komentar
  37. komentar
  38. komentar
  39. komentar

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *